Tugas-3: Hanya Ada di Labschool - Kenangan Trip Observasi 2011 dalam Perspektif Pribadi

Lantunan nada yang berisik terlontar dari telefon genggam, membangunkan saya di pagi hari Kamis, 20 Oktober 2011. Saya pun melompat bangun dan bergegas mempersiapkan bekal makan siang. Lalu, saya memberikan nametag Trip Observasi (TO) 2011 kepada pembantu untuk disetrika, dengan harapan laminating lembaran identitas tersebut dapat bertahan lama.
 
        Patut diakui pagi itu merupakan pagi yang rusuh. Tergesa-gesa, saya mandi dan sholat Subuh. Beberapa saat kemudian tibalah saya di SMA Labschool Kebayoran dengan sarapan setangkup roti. Setelah bertugas menjadi wakil siswi untuk penyematan nametag
di APEL keberangkatan, saya bersama Dasa Eka Cakra Bayangkara, kakak-kakak peserta TO, kakak-kakak OSIS MPK, serta guru dan pegawai sekolah meluncur ke Purwakarta. Dapat terlihatlah nuansa biru kaos TO 2011 yang dikenakan para pesertanya.
        Kurang lebih 3 jam kemudian, saya sudah berjalan di atas pematang sawah Kampung Parakan Ceuri, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Kampung inilah yang merupakan tempat tinggal saya dan semua yang mengikuti acara TO 2011 di 4 hari mendatang. Jujur, dengan berjalan dalam kondisi seperti ini saya menyadari bahwa saya tidak berbakat dalam berjalan cepat di atas pematang sawah. Bahkan tongkat angkatan yang saya bawa pun tidak banyak membantu.
        Namun kesulitan pasti ada akhirnya, dan dengan susah payah saya pun berhasil melalui perjalanan panjang melewati sawah dengan bantuan dari berbagai pihak. Setelah APEL penyambutan dan penyerahan peserta TO 2011 kepada orangtua asuh, saya bersama kelompok disambut oleh Pak Jamang, yang merupakan ayah asuh kami.
        Saya merupakan salah satu anggota dari kelompok 20 TO 2011 yang bernama Si Patokaan. Kelompok ini diketuai oleh seorang teman yang akrab dipanggil Abon, dan memiliki 6 anggota lain yang terdiri dari Anne, Dahlia, Avi, Fadlan, Tatar, dan Ujang. Kami dibimbing oleh Bu Noer dan 2 kakak PDP, yakni kak Widya dan kak Kybe.
        Kelompok 20, beserta kakak PDP dan guru pembimbingnya diantar ke rumah Pak Jamang. Kami disambut oleh Bu Oneng, ibu asuh kami, serta anaknya Tita. Keluarga yang baik hati ini juga telah mempersiapkan berbagai macam kerupuk dan teh hangat. Rumah yang mereka miliki sangatlah sederhana. Tetapi bahkan sampai di akhir acara TO 2011, saya tidak menemukan rumah lain yang lebih nyaman dan bersahabat dari rumah keluarga Pak Jamang.
        Kembali pada malam sebelum TO 2011 dimulai, saya sudah merasa sedikit demam. Namun saya tidak menyerah dan mundur dari ikut serta dalam acara penting ini. Sangat disayangkan, penyakit tersebut semakin parah pada hari pertama saya di Kampung Parakan Ceuri.
        Meskipun kondisi saya cukup membaik di keesokan harinya, tidak berarti saya sudah sehat sepenuhnya. Konyolnya, saya memaksakan diri untuk ikut lari pagi. Pergilah saya dan sebagian teman-teman sekelompok ke lapangan. Pemanasan berjalan lancar, dan lari pagi pun dimulai. Kami berlari melewati turunan curam. Cuaca waktu itu sangatlah sejuk, tetapi bagi saya dinginnya terlampau menusuk. Pada akhirnya saya berhenti di tengah jalan dan menyerah.
        Beberapa kakak OSIS MPK menghampiri saya, dan memutuskan untuk menyuruh saya berjalan kembali ke lapangan tempat pemanasan tadi dilaksanakan. Dengan perlahan pun saya menapaki kembali jalur yang sudah saya tempuh. Baru saya sadari, rupanya jarak jalur tersebut cukup jauh.
        Berpapasanlah saya dengan beberapa guru yang berjalan santai dengan rute lari pagi peserta TO 2011. Salah satu di antaranya menegur saya karena memaksakan kehendak untuk lari. Kemudian saya lanjutkan lagi perjalanan saya sembari memikirkan kesalahan yang telah saya perbuat.
        Saya sampai dengan selamat di lapangan. Setelah menunggu sesaat, saya berjalan kembali ke rumah keluarga Pak Jamang yang juga merupakan rumah sementara saya selama 4 hari. Kemudian saya mencoba menyembuhkan diri dengan mengkonsumsi obat-obatan dan madu yang saya bawa dari Jakarta.
        Sembari memulihkan diri, saya bersama teman-teman sekelompok berjuang mengerjakan presentasi makalah PDP. Tak dapat pula kami lupakan bala bantuan dari Bu Noer dan kakak-kakak PDP sampai tugas ini selesai tepat pada waktunya.
         Saatnya pun tiba untuk kami berpresentasi. Hasil persetujuan para ketua kelompok memaksa kami untuk tampil pada giliran pertama. Bu Riri sekali lagi menjadi guru penilai kami, karena beliau jugalah yang menempati kedudukan tersebut saat kami mempresentasikan proposal di Pra-TO. Dan kedua presentasi kami pun berjalan cukup lancar.
        Hari ini terasa sangat panjang, karena banyak momen tak terlupakan di dalamnya. Salah satu dari momen-momen itu adalah memberikan surat cinta kepada salah satu kakak OSIS Agramanggala Kartapradhana. Dibanding kelompok lain, pita hijau kelompok saya belum terlalu banyak sehingga saya memutuskan untuk melaksanakan tugas tradisi TO ini secepatnya.
        Awalnya saya mau menyerahkan surat saya yang tergulung di dalam botol kaca saat kegiatan Lintas Budaya berlangsung, tetapi salah satu kakak PDP saya menganjurkan untuk melakukannya di panggung saat Pentas Seni di malam hari. Saya pun menuruti perkataannya, dan memberi tahu rencana saya kepada salah satu kakak OSIS seksi kesenian sebelum acara Pentas Seni dimulai.
        Tentu saja saya merasa gugup. Namun saya tidak dapat mengubah pikiran lagi, karena keputusan awal saya sudah diberitahukan kepada kakak penanggung jawab acara malam itu. Mungkin karena gelisah, saya akhirnya sempat tertidur sebentar saat menikmati Pentas Seni. Namun terbangunlah saya sesaat sebelum dipanggil ke panggung. Saya pun memberanikan diri, dan beberapa menit kemudian selesailah tugas saya dalam memberikan serta membacakan surat cinta kepada kakak OSIS yang saya pilih.
        Hari kedua saya ditutup dengan menjaga vendel, yakni menara tongkat kelompok. Seharusnya saya melaksanakan tugas ini di hari pertama, tetapi karena kondisi yang tidak cukup sehat akhirnya saya diizinkan beristirahat saja. Menurut jadwal acara, malam kedua merupakan malam terakhir menjaga vendel. Saya tidak ingin menyelesaikan TO 2011 tanpa mengalami kegiatan yang saya anggap menarik ini, sehingga saya bersukarela bersama Dahlia dan Avi.
        Ditemani dengan secangkir susu jahe dan kacang pilus, kami bertiga pun berhasil menjaga vendel sampai pukul 12 malam lebih. Ditengah tugas, kami dihadapi dengan kakak-kakak OSIS yang memeriksa kekokohan vendel kami dan memberikan sinar senter warna-warni. Kami menjawab sinar-sinar tersebut, dan hasilnya pun tidak terlalu buruk.
        Tak terasa sudah cukup lama kami berada di Kampung Parakan Ceuri. Hari ketiga saya dimulai dengan suara riuh ayam-ayam berkokok, seperti pagi-pagi sebelumnya sehingga saya sudah cukup terbiasa dengan hal tersebut. Namun patut diakui, di kampung inilah saya pertama kali dibangunkan oleh sekumpulan ayam setiap pagi. Unggas-unggas pengganti jam weker tersebut memang merupakan hewan peliharaan keluarga Pak Jamang.
        Hari ini penuh dengan persiapan kegiatan penjelajahan, yang akan dilaksanakan di keesokan harinya. Karena demam dan flu yang sempat saya alami di awal TO 2011, saya terhitung sakit dan diwajibkan melaksanakan pemeriksaan medis. Jika saya lolos dari pemeriksaan tersebut, maka saya akan diizinkan mengikuti penjelajahan. Dan jika hasil menunjukkan sebaliknya, saya akan menjaga rumah seharian pada esok hari.
        Pergilah saya dan 4 anggota kelompok lainnya ke tempat pemeriksaan dilaksanakan. Kami berlima telah mendapatkan pita putih penunjuk sakit. Sebenarnya, mayoritas kelompok lain memiliki maksimal 3 anggota yang perlu melaksanakan pemeriksaan medis. Hal ini memberi kesan lemah kepada kelompok kami, yang pada kenyataannya tidak benar.
        Setelah pemeriksaan medis selesai, kami berlima kembali ke rumah. Jadwal acara menunjukkan bahwa kegiatan sore itu adalah Lintas Budaya. Kebetulan, saya dan Fadlan bertugas untuk menjaga rumah sehingga kami tidak ikut menyaksikan penampilan teman-teman kami dalam memperagakan baju adat dari berbagai daerah. Perwakilan kelompok kami adalah Anne dan Ujang, yang diperintahkan untuk memperagakan baju adat daerah Bugis.
        Menurut pendapat pribadi saya, menjaga rumah tidaklah membosankan. Saya dapat belajar memasak dengan peralatan-peralatan Kampung Parakan Ceuri, serta mengobrol dengan orangtua asuh. Saya dan Fadlan pun membantu Bu Oneng memasak makan malam kami sambil bercakap-cakap. Baru kami berdua ketahui bahwa kami merupakan teman sekelas saat menduduki tingkat 1 SD. Kami pun mengenang masa lalu, diikuti dengan tawa terbahak-bahak.
        Sisa sore itu kami lewati dengan cengkrama bersama Bu Oneng, serta bermain di sekitar rumah. Lalu datangnya hujan deras memaksa saya dan Fadlan masuk kembali ke dalam rumah. Rupanya Pak Jamang sudah berada di rumah, dan kami pun melanjutkan obrolan bersama Bu Oneng dan suaminya itu.
        Tak lama kemudian teman-teman kami yang lain pulang, dan akhirnya kami mengobrol santai yang diselingi dengan sholat. Jadwal acara memang menunjukkan kegiatan mempersiapkan penjelajahan, dan kami melakukannya dengan canda tawa yang diakhiri dengan istirahat malam.
        Pagi hari pun tiba, dan kami yang beragama Islam bersegera melaksanakan sholat Subuh ke masjid. Kemudian kami kembali ke rumah untuk sarapan secepat mungkin. Usaha terbaik kami memberi hasil urutan ke-26 dari 30 untuk pergi penjelajahan, karena kami datang ke lapangan cukup terlambat dibandingkan kelompok lainnya. Abon dan Tatar tidak lolos dari pemeriksaan medis sehingga merekalah yang bertugas menjaga rumah di hari itu. Ujang pun mewakili Abon dalam melaksanakan tugas ketua kelompok ketika penjelajahan.
        Saya sempat ragu untuk melaksanakan kegiatan yang membutuhkan kekuatan fisik ini. Mungkin, hal ini disebabkan oleh trauma karena tidak kuat lari di hari pertama TO 2011. Saya juga membayangkan penjelajahan sebagai kegiatan yang sangat berat.
        Tapi apalagi yang dapat diperbuat selain menghadapi kenyataan. Setelah menunggu giliran cukup lama, akhirnya kami enam anggota dari kelompok 20 diberangkatkan oleh Bu Ulya. Di awal penjelajahan saya mencoba meredam rasa gelisah. Baru permulaan, namun saya sudah merasa cukup lelah. Tetapi saya yakin saya sanggup, dan sampailah kami berenam di pos OSIS pertama. Pos tersebut adalah pos seksi kesenian. Di sini, pipi masing-masing dari kami dituliskan nama kakak OSIS yang dibenci, penerima surat cinta, serta jabatan OSIS yang ingin kami duduki jika menjabat di periode berikutnya. Penulisan ini dilakukan menggunakan lipstik.
 
        Melanjutkan perjalanan, tibalah kami di pos bayangan yang berupa pos OSIS seksi olahraga. Kami langsung diperintahkan untuk melaksanakan gerak buta tuli. Saat masih dalam posisi gerakan itu, kakak-kakak OSIS menyuruh kami bernyanyi. Karena ketakutan, saya beranggapan saya tuli dan tidak mendengar perintah itu. Namun, nampaknya saya telah melakukan hal yang salah.
        Pos OSIS seksi bela negara merupakan tujuan selanjutnya, yang terletak di sawah berlumpur. Bahkan sebelum memasuki sawah, kelompok saya sudah mengalami konflik dengan kakak-kakak OSIS. Alhasil keributan menjadi jauh lebih ramai dari seharusnya di dalam sawah.
        Penuh lumpur, kami beranjak menuju air terjun yang letaknya cukup jauh. Sesampainya di sana, air terjun yang kami pakai sudah berwarna cokelat akibat lumpur dari perwakilan 25 kelompok yang mengikuti penjelajahan. Sebelum membersihkan diri, kami diwajibkan menjawab beberapa pertanyaan dari pos OSIS seksi rohani islam terlebih dahulu.
        Lalu kami pun menghapus lumpur di badan kami dengan air yang menyegarkan. Sayangnya saya dan teman-teman perempuan takut pita-pita atribut rambut kami copot jika kami merendam kepala, sehingga pada akhirnya kami tidak memasukkannya ke dalam air. Hal ini merupakan salah satu hal yang sangat saya sesali di kemudian waktu.
        Melanjutkan menjalani jalan turunan, akhirnya kami diberikan segelas Pop Mie hangat. Setelah merasa cukup kenyang kami melanjutkan jalan turunan sampai mencapai sawah. Tentu bagian ini merupakan bagian yang tidak terlalu saya nikmati, karena di atas pematang sawah saya berjalan lambat.
        Di tengah perjalanan, kami melewati pos OSIS seksi kesehatan masyarakat. Kami dipersilahkan untuk melaksanakan permainan, yang akhirnya diperintahkan untuk memeragakan penyakit muntaber. Lalu kami berjalan lagi, dan berhenti sejenak di pos OSIS seksi edukasi untuk menjawab pertanyaan tentang pengetahuan umum. Dari tiga pertanyaan, kami berenam hanya dapat menjawab dua.
        Seharusnya masih ada pos OSIS seksi dana dan logistik, tetapi karena hujan turun pos tersebut bubar. Dan sampailah kami di daerah perumahan tempat kami berangkat, lapor sebentar atas kedatangan kami, dan akhirnya kembali ke rumah.
        Enam anggota kelompok kami memutuskan giliran mandi dengan melakukan hompimpa. Ini merupakan cara yang sangat sering digunakan kelompok 20 dari kegiatan Pra-TO, dan sebelum hari itu saya selalu kalah dalam cara penentuan tersebut. Tetapi sore itu berbeda. Saya akhirnya menang, dan mendapatkan giliran mandi pertama.
        Kegirangan, saya kembali ke rumah dan bersiap-siap mandi. Sayangnya saat saya mengumumkan kepada orang-orang di rumah bahwa saya akan mandi, kedua kakak PDP saya memutuskan untuk mandi terlebih dulu secara bergantian sebelum saya. Tetapi apa boleh buat, saya sudah bersyukur untuk mendapatkan giliran pertama diantara sesama teman kelompok.
        Kurang lebih 30 menit kemudian saatnya saya untuk mandi pun datang. Sangat senanglah saya menyambut air gunung untuk bersih diri, yang sudah saya gemari dari saat pertama kali mandi di Kampung Parakan Ceuri. Air ini sangatlah dingin, tetapi kemudian tidak membuat menggigil bahkan kepada orang sakit sekali pun. Namun air gunung memberikan sensasi segar yang bertahan cukup lama.
        Kemudian kami beristirahat dengan mengobrol santai di dalam rumah sembari membersihkan barang-barang yang terkena lumpur. Di saat inilah kakak penerima surat cinta saya datang dan menukarkan 7 pita hijau kelompok saya dengan 1 pita merah, yang bernilai 10 pita hijau.
        Dan kelompok kami melanjutkan acara bersantai sampai keesokan harinya, di mana kelelahan dari penjelajahan baru terasa. Hari ini juga merupakan hari terakhir kami semua di Kampung Parakan Ceuri. Setelah proses mengepak barang, membereskan rumah, dan berpamitan kepada keluarga Pak Jamang yang mengambil waktu panjang namun mengharukan, kami akhirnya melaksanakan APEL penyerahan peserta TO 2011 kepada SMA Labschool Kebayoran.
        Bertugas kembali sebagai perwakilan siswa dalam penyematan nametag, saya tidak yakin jika telah menjalani tugas dengan baik. Tetapi itulah akhir dari TO 2011 yang tidak dapat diubah lagi. Saya akhirnya kembali ke Jakarta dengan bis 7 yang pada awal perjalanan kaca spionnya ditabrak oleh bis lain. Penumpang pun sempat kaget, namun akhirnya kaca spion yang hancur digantikan dengan yang baru.
        Kami pun tiba di Jakarta berapa jam kemudian. Saya pun sempat tercenggang melihat pemandangan kota. Setelah kenyang dengan makan siang yang berupa KFC yang entah mengapa terasa lebih lezat dari biasanya, kami tiba di sekolah.
  Saya melihat kakek saya menunggu di depan pintu depan. Saya pun memberitahu beliau untuk menunggu sebentar, dan masuk kedalam untuk berkumpul sebentar di hall basket Setelah selesai, saya keluar mengambil barang bawaan dan disambut dengan Chewy Junior dari salah satu teman angkatan yang berulang tahun pada hari itu. Entah mengapa, camilan tersebut juga terasa lebih nikmat dari biasanya. Dan pulanglah saya ke rumah, mengakhiri kegiatan yang takkan terlupakan ini.

 APEL keberangkatan

APEL penyambutan dan penyerahan peserta TO 2011 kepada orangtua asuh 

Wawancara untuk tugas makalah PDP

 Mengelilingi Kampung Parakan Ceuri

  Presentasi PDP
Kristal Amalia XF

Read more »

Tugas 3: Hanya Ada di Labschool - Trip Observasi, Masa yang Terindah Dalam Hidupku

Pada tanggal 20-24 Oktober 2011 saya dan teman-teman saya mengikuti kegiatan Trip Observasi 2011 di Kampung Parakan Ceuri, Purwakarta. Namun sebelum mengikuti Trip Observasi 2011, saya dan teman-teman saya terlebih dahulu mengikuti kegiatan Pra-Trip Observasi yang dilaksanakan selama 3 hari dari hari Kamis, 13 Oktober 2011 hingga Sabtu, 15 Oktober 2011. Untuk kegiatan ini saya masuk kedalam kelompok 16 bersama Nadhira Khanza, Estu Khresna, Hasif Syaharastani, Nadhira Melati, Diva Nabila, dan Auliya Devaldi dengan pendamping kami yaitu Kak Garina dan Kak Deel.

Pada hari pertama Pra TO kami diberikan kesempatan untuk mengecat tongkat dan membuat nametag. Desain nametag TO ternyata lebih sulit dibandingkan dengan nametag MOS karena ukurannya yang lebih besar dan lebih banyak bagian-bagian yang kecil dan sulit. Namun kami bekerja sama untuk menyelesaikan nametag tersebut. Kami  harus segera menyelesaikannya karena nametag tersebut akan dipakai di keesokan harinya. Akhirnya nametag kami pun selesai bertepatan dengan waktu yang diberikan oleh panitia berakhir. Kami hanya perlu menempel foto kami masing-masing dan melaminating nametag kami agar tahan lama. Setelah itu saya pun mencari pita yang harus digunakan saat Pra TO hari kedua & hari ketiga serta pada saat TO.

Lalu pada hari kedua Pra TO paginya kami melaksanakan kegiatan lari pagi terlebih dahulu lalu kami melaksanakan kegiatan simulasi PKD dan juga diajarkan bagaimana cara memasak agar memudahkan kami saat TO nanti. Kelompok saya pun memasak tempe goreng, tumis kangkung, telur kornet, dan beberapa ayam goreng. Kami pun makan bersama-sama dengan lahap. Setelah yang pria Sholat Jumat kami pun bersiap-siap untuk presentasi mengenai PDP. Kelompok saya mendapatkan tema “hubungan tingkat urbanisasi terhadap peningkatan ekonomi keluarga pada masyarakat Kampung Parakan Ceuri”. Kami pun membuat display kami sekreatif mungkin agar terlihat menarik.

Pada hari ketiga Pra TO awalnya kami melaksanakan lari pagi kembali dengan rute yang lebih jauh dari sebelumnya. Setelah lari pagi kami melaksanakan kegiatan siaga tongkat. Setelah itu kami melakukan beberapa kegiatan dan pada sore harinya kami melaksanakan audisi pentas seni. Pada audisi ini kelompok saya menampilkan drama mengenai Harry Potter. Kami pun melaksanakan audisi di aula lantai 4. Kelompok yang lolos audisi akan tampil kembali pada saat kami TO. Namun sayang kelompok saya tidak lolos dalam audisi pentas seni ini sehingga kelompok saya tidak tampil di TO nanti. Setelah itu pada sore harinya kami diberi pengumuman mengenai siapa ketua angkatan 11 dan juga nama angkatan 11. Ketua umum angkatan 11 adalah Adhitya Bayu, ketua 1 nya adalah Maga Arsena, dan ketua 2 nya adalah Rayhan Athaya. Nama angkatan kami adalah Dasa Eka Cakra Bayangkara dengan arti angkatan 11 yang mampu menjaga keseimbangan roda kehidupan. Kami pun juga diperlihatkan bagaimana yel-yel angkatan kami.

Setelah melewati Pra-TO akhirnya kami pun berangkat ke Purwakarta pada tanggal 20 Oktober 2011 sekitar pukul 07.00 pagi. Kami menempuh perjalanan kira-kira selama 4 jam. Setelah sampai kami pun turun di kampung tetangga dari Kampung Parakan Ceuri. Kami harus melewati pematang sawah, hutan, dan lain sebagainya sebelum tiba di Kampung Parakan Ceuri. Walaupun lelah namun kelelahan tersebut terbayar dengan indahnya pemandangan di sepanjang perjalanan. Suasana damai pedesaan pun sudah sangat terasa. Setelah tiba di Kampung Parakan Ceuri kami pun melaksanakan apel terlebih dahulu dan mendapat sambutan dari warga setempat. Setelah itu kami pergi ke rumah yang akan kami tempati masing-masing. Kelompok saya tinggal bersama Bapak Sirod yang bekerja sebagai petani dan peternak. Bapak Sirod telah berkeluarga dan memiliki 3 anak. Setibanya kami di rumah Bapak Sirod kami pun langsung disediakan makanan dan menyantapnya bersama-sama. Lalu kami pun beristirahat sebentar sebelum melaksanakan kegiatan selanjutnya. Setelah sholat Dzuhur, kami pun mengumpulkan data untuk presentasi PDP. Kami mewawancarai penduduk sekitar untuk mendapatkan info mengenai pengaruh tingkat urbanisasi terhadap peningkatan ekonomi warga. Namun tidak semua anggota kelompok ikut. Harus ada 2 orang yang piket menjaga rumah untuk membantu-bantu pemilik rumah. Lalu setelah sholat Maghrib dan sholat Isya, kami pergi ke lapangan untuk menyaksikan beberapa pentas seni seperti menyanyi dan lain sebagainya. Setelah itu kami pun kembali ke rumah masing-masing dan beristirahat. Namun saya dan divan bertugas untuk menjaga vendel pada malam itu. Kami mendapatkan shift pertama hingga jam 12.00 malam. Kami tidak boleh tertidur dan jika kakak-kakak OSIS datang dan memberikan sinyal-sinyal dengan kertas mika berwarna, kami pun harus membalas sinyal dari kakak-kakak OSIS tersebut.

Pada hari kedua kami harus bangun pukul 04.00 pagi untuk melaksanakan sholat Subuh di masjid ataupun majelis ta’lim. Setelah melaksanakan ibadah pagi kami pun melanjutkannya dengan olahraga pagi. Namun ada 2 anggota kelompok yang harus tetap tinggal di rumah untuk menyiapkan sarapan bagi anggota lainnya. Pada hari kedua itu kami berolahraga pagi dengan lari pagi di sekitar lingkungan Parakan Ceuri. Cukup melelahkan namun terasa menyenangkan juga karena dapat menikmati pemandangan pedesaan di pagi hari. Setelah melaksanakan kegiatan olahraga pagi, kami pun melaksanakan bersih diri dan sarapan dengan makanan yang telah disiapkan oleh anggota kelompok yang tinggal di rumah. Yang bertugas piket di pagi hari pun harus membantu mencuci piring dan membersihkan rumah. Pada hari kedua ini saya memutuskan untuk memberikan surat cinta kepada salah satu kakak kelas demi mendapatkan pita hijau untuk kelompok saya. Setelah itu beberapa orang pergi untuk melaksanakan PKD atau peduli kehidupan desa. Kegiatan ini ditujukan agar kami mengetahui apa saja yang dilakukan oleh warga Parakan Ceuri sehari-hari. Orang tua asuh kelompok saya merupakan seorang peternak dan petani, namun ia saat ini hanya mengurus peternakannya saja sehingga kami hanya pergi ke peternakan saja. Dikelompok saya yang mengikuti PKD hanya yang laki-laki saja, yang perempuan membantu membersihkan rumah, menjaga warung, dan lain sebagainya. Setelah sholat Jumat dan sholat Dzuhur kami pun melaksanakan seleksi presentasi PDP. Kelompok saya pun akhirnya berhasil lolos seleksi dan maju ke babak final. Setelah itu kami melaksanakan sholat Ashar dan melaksanakan lintas budaya. Kelompok saya mendapatkan tema Melayu untuk lintas budaya. Namun kelompok saya mendapatkan kesempatan presentasi lintas budaya pada hari ke-3 TO. Lalu kami pun sholat Maghrib dan sholat Isya. Setelah itu kami makan malam dan ke lapangan untuk menyaksikan drama yang lolos audisi dan penampilan-penampilan lainnya. Pentas seni selesai pada pukul 10.00 malam dan kami pun kembali ke rumah masing-masing dan beristirahat. Namun seperti malam kemarin, malam ini masih terdapat shift malam atau jaga vendel.

Pada hari ketiga kami cukup banyak memiliki waktu luang untuk istirahat karena tidak terlalu banyak aktivitas yang harus dilakukan. Pertama kami harus tetap bangun pukul 04.00 pagi untuk ibadah pagi lalu melanjutkannya dengan kegiatan olahraga pagi. Kali ini olahraga pagi yang akan dilaksanakan adalah senam bersama bapak-bapak dari angkatan darat. Kami diharuskan untuk melakukan senam tersebut dengan sungguh-sungguh karena jika tidak sungguh-sungguh kami akan menerima hukumannya. Setelah selesai senam kami kembali ke rumah dan melaksanakan bersih diri, sarapan, dan menyiapkan untuk kegiatan selanjutnya. Kegiatan yang akan dilaksanakan antara lain, presentasi PKD, educare, bakti sosial, dan persiapan final presentasi PDP. Sebelum presentasi PKD, kami diharuskan membuat gambar yang menjelaskan mengenai kehidupan orang tua asuh pada saat kami ikut serta saat PKD. Selain itu kami harus membuat ceritanya dalam bentuk essay. Yang bertugas untuk presentasi PKD adalah saya, Divan, dan Aqil. Kami harus mempresentasikannya sebaik mungkin dan bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh juri. Selain PKD, terdapat juga kegiatan educare. Educare adalah kegiatan dimana beberapa peserta TO mengajarkan murid-murid sekolah dasar di SD yang terdapat di Parakan Ceuri. Perwakilan dari kelompok saya adalah Valdy. Lalu kami juga mempersiapkan final presentasi PDP dengan membuat display PDP lebih menarik dan membenarkan apa yang salah dalam display tersebut. Lalu kami melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dahulu. Setelah itu kami pun menuju lapangan dan bersiap untuk melaksanakan presentasi PDP. Dan ternyata kelompok 16 mendapatkan giliran pertama untuk presentasi PDP. Kami pun merasa gugup namun tetap berusaha tenang agar presentasi dapat berjalan dengan lancar dan dapat menjawab pertanyaan para juri. Setelah selesai presentasi kami pun merasa lega karena presentasi kami cukup berhasil. Kami harus mengalahkan 4 kelompok lainnya agar kami bisa menang dan mendapatkan giliran penjelajahan di awal. Pengumuman pun akan diumumkan kepada pendamping kelompok masing-masing pada malam hari. Kami pun kembali ke rumah masing-masing untuk bersih diri dan medical check-up untuk penjelajahan keesokan harinya. Saya pun masuk kedalam daftar peserta TO yang harus menjalani medical check-up. Ternyata alasannya karena badan saya yang terlalu kurus atau biasa disebut astenik. Hasil medical check-up akan diumumkan pula pada malam hari kepada pendamping kelompok masing-masing. Setelah itu kami bersiap untuk sholat Isya dan sholat Maghrib. Setelah selesai sholat kami langsung kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan bekal pada saat penjelajahan agar kami tidak kesulitan pada saat penjelejahan keesokan harinya. Setelah makan malam dan bersiap-siap kami pun langsung tidur agar saat penjelajahan kami tidak terlalu lelah. Namun pada pukul 10.00 malam kami dibangunkan oleh pendamping kami dan memberikan kabar yang cukup baik. Kami mendapatkan juara 2 pada final presentasi PDP dan kami pun mendapatkan posisi ke-3 untuk urutan penjelajahan. Setelah itu kami pun kembali tidur.

Pada hari keempat kami pun kembali bangun pukul 04.00 pagi untuk melaksanakan sholat Subuh. Setelah itu kami bersiap-siap untuk penjelajahan. Namun tidak semua anggota kelompok saya dapat mengikuti penjelajahan. Aci dan Valdy tidak dapat ikut penjelajahan karena mereka tidak lolos medical check-up dan dilarang oleh dokter untuk mengikuti penjelajahan. Setelah siap kami pun langsung bergegas ke lapangan untuk briefing sebelum penjelajahan. Kelompok kami tidak terlalu tergesa-gesa ke lapangan karena kami telah mendapatkan posisi untuk penjelajahan dan tidak perlu berebut dengan kelompok lainnya. Kami pun diberikan pengarahan terlebih dahulu dan melakukan pemanasan terlebih dahulu. Setelah itu kami pun berangkat penjelajahan dengan interval keberangkatan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya selama 15 menit. Pertama-tama kami sudah disuguhkan dengan jalan menanjak dan licin dikarenakan pada malam harinya hujan sempat mengguyur kampung Parakan Ceuri. Kami pun saling membantu agar anggota kelompok kami dapat dengan mudah melewati jalur penjelajahan tersebut. Setelah beberapa menit berjalan kami pun tiba di pos pertama yaitu pos kesenian. Di pos ini wajah kami akan dipenuhi dengan tulisan dan gambar-gambar. Pada dahi dituliskan oleh kakak-kakak sie.kesenian nama kakak kelas yang kami berikan surat cinta. Lalu pada pipi kanan dituliskan jabatan apa yang diinginkan jika ingin menjadi OSIS. Dan pada pipi kiri dituliskan nama kakak-kakak OSIS yang tidak disukai. Setelah itu kami harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh kakak-kakak sie.kesenian. Setelah selesai kami pun harus melanjutkan perjalanan. Jalan yang kami tempuh masih banyak sekali rintangan seperti jalan licin, turunan yang curam, tanjakan, dan lain sebagainya. Namun kami tetap semangat dan tetap bekerja sama agar tidak ada yang kesulitan. Pos kedua adalah pos olahraga. Kami diperintahkan oleh kakak-kakak sie.olahraga untuk buta tuli dan menyanyi lagu-lagu Labschool tanpa henti hingga kakak-kakak sie.olahraga memberikan perintah untuk berhenti menyanyi. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan tiba di pos ketiga yaitu pos bela negara. Disana kami diberikan perintah untuk merayap di lumpur dan push up di lumpur. Pada saat merayap di lumpur saya lupa melepas jam tangan saya, dan ternyata jam tangan saya masih baik-baik saja setelah selesai merayap di lumpur. Lalu pada saat di pos BN, tongkat-tongkat kami dimasukkan ke dalam lumpur dan ternyata vendel kami patah. Akhirnya pada saat melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya kami mencari ranting dan menggunakannya untuk memasang vendel kembali. Lalu kami melanjutkan ke pos selanjutnya yaitu pos rohani. Pos rohani tersebut terletak di air terjun dimana kami akan diberi kesempatan untuk membersihkan diri. Air terjun tempat kami membersihkan diri sangat nyaman dan sejuk. Namun sayang kami dibatasi waktunya pada saat kami di air terjun. Kami hanya diberi waktu 5 menit untuk menikmati kesegaran air terjun tersebut. Setelah itu kami turun dari air terjun dan melanjutkan perjalanan melewati kebun teh dan pematang sawah. Pemandangannya sangat indah sekali dan sayang untuk dilewatkan. Setelah cukup lama berjalan, kami tiba di pos kesehatan. Di pos kesehatan kami disuruh untuk memeragakan ciri-ciri penyakit tertentu dan anggota kelompok di paling belakang harus menebaknya. Namun ternyata kelompok saya gagal. Lalu kami melanjutkan perjalanan kembali. Kami tidak perlu jalan terlalu jauh untuk sampai di pos berikutnya yaitu, pos dana dan logistik. Di pos ini kami diberikan kesempatan untuk menebak posisi masing-masing kakak kelas yang ada di pos tersebut pada sie.dana dan logistik. Lalu kami pun mengobrol sebentar hingga kelompok selanjutnya pun hampir tiba di pos danlog. Kami pun melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya. Perjalanan yang ditempuh cukup jauh dan harus melewati kebun dan juga pematang sawah. Pos ini merupakan pos terakhir. Pos tersebut adalah pos pendidikan. Di pos tersebut kami harus menjawab pertanyaan yang diajukan dan jika kami tidak berhasil menebaknya kami harus menerima hukuman yaitu seri atau push up. Lalu kami melanjutkan perjalanan kembali dan akhirnya tiba kembali di Kampung Parakan Ceuri dengan selamat. Kami pun lapor terlebih dahulu kepada salah satu guru dan akhirnya kembali ke rumah untuk bersih diri. Karena kelompok saya termasuk kelompok awal yang berangkat penjelajahan, maka kami pun memiliki cukup banyak waktu untuk bersih diri. Setelah bersih diri kami pun sholat Dzuhur, Ashar, hingga sholat Maghrib. Lalu kami pergi ke lapangan untuk menyaksikan pentas seni dan juga api unggun. Kami menyaksikan berbagai drama dan juga hiburan seperti piano, gitar, dan juga nyanyian dari teman-teman kami. Setelah pentas seni selesai kami pun melaksanakan api unggun. Pada saat api unggun suasana keakraban pun sangat terasa dan membuat saya merasa sedih. Api unggun menghangatkan persahabatan kami semua dimalam yang dingin. Suasana malam itu pun terasa sangat syahdu ditambah dengan alunan musik. Kami bernyanyi bersama, bersenang-senang, dan menyuarakan yel-yel masing-masing angkatan. Setelah acara api unggun selesai, kami pun kembali ke rumah dan bersiap-siap untuk tidur.

Tak terasa 5 hari telah terlewati di Purwakarta ini. Pada hari terakhir kami hanya melakukan sholat shubuh dan bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Kami pun harus berpamitan kepada keluarga asuh kami dan kami pun merasa sangat sedih. Lalu kami meletakkan tas-tas kami ke dalam truk untuk dibawa ke Jakarta terlebih dahulu. Setelah selesai meletakkan barang-barang, kami pun pergi ke lapangan untuk melaksanakan apel penutupan. Lalu kami pun segera menuju bis dan kembali ke Jakarta. 5 hari di Purwakarta terasa sangat cepat. Penjelajahan dan api unggun adalah bagian yang paling saya sukai dan tak mungkin saya lupakan karena terlalu menyenangkan untuk dilupakan. Biarkan semua pengalaman indah tersebut tetap terekam di ingatan saya dan Dasa Eka Cakra Bayangkara.


Final Presentasi PDP

Kelompok 16 (tanpa Aci & Valdy) - Di curug

Penjelajahan

Penjelajahan

Kelompok 16 dan Keluarga Pak Sirod<3

Nindya Aristia Pratiwi
XF/30



Read more »

Tugas 3 : Trip Observasi, Kenangan Berharga Sepanjang Masa

Bukan Labschool namanya bila tidak memiliki kegiatan unik dan tak biasa bagi siswa-siswinya. Trip Observasi, sebenarnya bukan hal baru. Kegiatan ini telah dilakukan sejak angkatan pertama SMA Labschool Kebayoran. Tapi tetap saja ini hal baru bagiku, bagi kami, Dasa Eka Cakra Bayangkara. Tujuan dari Trip Observasi sendiri sebenarnya adalah agar para siswa bisa lebih ‘merendah’ (low profile) dan lebih membaur terhadap kehidupan desa. Menanggalkan status (jabatan) dan keangkuhan untuk ikut membaur dan menjadi orang yang lebih bersahaja adalah salah satu tujuannya. Setelah kupikir-pikir, sepertinya kegiatan ini mirip dengan acara reality show di TV, “Jika Aku Menjadi”. Namun, kami memiliki tugas dan misi tersendiri yang harus diselesaikan selama kami berada di sana. Yah, kurang lebih seperti itulah kegiatan yang akan kami jalani selama 5 hari Trip Observasi di Kampung Parakan Ceuri, Purwakarta, Jawa Barat. Dari tanggal 20-24 Oktober 2011.

Pagi itu harusnya jadi pagi biasa. Rabu pagi tanggal 19 Oktober 2011. Seharusnya, setelah sarapan aku siap berangkat sekolah dengan motor. Ya, seperti biasa saja. Tapi sayangnya pagi itu ketenanganku agak diusik. Satu travel bag hitam besar kupegang erat dengan kedua tanganku. Baju olahraga, baju rumah, handuk dan perlengkapan TO lainnya, semuanya sudah kupadatkan dalam 1 tas besar itu sejak kemarin malam. Aku sebenarnya agak khawatir pengait travel bag-ku akan putus –mengingat kejadian saat aku BIMENSI- . Tapi, ayah bilang tas itu cukup kuat. Lemnya juga bagus, jadi aku tak perlu khawatir. Langsung saja kuangkat tas ku dan ku taruh di tengah-tengah jok motor. Hari itu tanggal 19. Maksudku, TO baru akan dimulai besok. Tetapi kami disuruh mengumpulkan tas dan perlengkapan kelompok –aku membawa 5 botol AQUA 1,5 liter- pagi itu. Katanya, agar besok kami tak perlu lagi membawa barang-barang yang memberatkan sehingga kami bisa berjalan dengan santai. Kamis besok, kami hanya akan membawa 1 tas ransel berisi makanan ringan dan cemilan, serta membawa tongkat (sakral) TO.

Saat aku sampai di sekolah, dan menginjakkan kaki di plaza sambil menenteng travel bag-ku, temanku menawarkan bantuan. Setelah sampai di hall, aku menempatkan tasku sesuai urutan kelompok. Dan sisa hariku dipakai untuk belajar seperti biasa.bedanya, aku menggunakan seragam batik karena seragam putih-abu akan kupaakai besok saat berangkat menuju lokasi TO.

Kamis pagi 20 oktober 2011 sebelum berangkat sekolah, aku menguncir rambutku sesuai dengan ketentuan peserta TO perempuan yang berlaku. Setelah siap dengan ransel, tongkat dan nametag, pukul 5.15 WIB aku berangkat ke sekolah dengan motor seperti biasa. Sebelum kami benar-benar diberangkatkan, kami mengadakan apel dan doa bersama agar selamat sampai tujuan terlebih dahulu. Setelahnya, kami langsung menuju bus masing-masing dan berangkat menuju lokasi TO. Aku kelompok 14 dan menaiki bus 5 dengan 2 kelompok lainnya (kelompok 13 dan 15). Tak banyak yang kami lakukan selama perjalanan berlangsung. Karena aku kurang tidur dan merasa sangat mengantuk, beberapa jam perjalanan kugunakan untuk tidur, sehingga ketika sampai di lokasi aku akan merasa segar kembali.

Setelah sampai di suatu daerah (yang kukira itu adalah lokasi TO kami), kami semua turun dari bis dan berbaris satu per satu. Setlahnya, kami dituntun untuk berjalan melewati pematang-pematang sawah dan semak belukar. Cukup jauh kami berjalan. Melewati jembatan bambu dan tanah yang licin. Beberapa kali aku hampir terperosok masuk ke sawah. Untung saja tidak benar-benar terjadi.





Saat baru sampai ke lokasi yang kupikir lokasi TO



Setelah cukup lama berjalan, akhirnya kami sampai di tujuan. Kampung Parakan Ceuri. Rupanya tadi hanya akal-akalan Pak Eri saja untuk menurunkan kami di tempat bis kami berhenti tadi, agar kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh ± 4-5 km melewati pematang-pematang sawah. Namun, sejujurnya aku sangat menikmati perjalanan itu. Pemandangannya bagus, dan anginnya sejuk. Meski lelah, aku bersemangat untuk tetap menjelajahi medan.






Saat berjalan melalui pematang sawah menuju Kampung Parakan Ceuri



Sampai di wilayah Kampung Parakan Ceuri, kami berkumpul di lapangan setempat untuk mendengarkan sambutan dari Kepala Desa dan pertunjukan lesung dari ibu-ibu setempat. Setelah itu, kami (per kelompok) langsung diarahkan menuju rumah host-parent kami. Kelompokku akan tinggal di rumah keluarga Pak Lili, seorang kuli dan petani sayuran. Rumah beliau sangat sederhana. Tapi entah mengapa aku justru betah di sana. Udara sejuk dan jauh dari polusi. Sesama tetangga juga dekat. Suasananya tenang dan akrab. Kelompokku (Akang, Helmi, Nadhiv, Bagus, Farah, Niken, Tara dan Annisa) bersama kakak pendamping (Kak Mirsa dan Kak Dilla) serta guru pendamping Sensei Rusdi, bersama keluarga Pak Lili berkumpul di ruang keluarga dan saling memperkenalkan diri masing-masing.



Berkumpul di lapangan





Kakak pendamping kami selama Trip Observasi (Kak Dilla dan Kak Mirsa)



Setelah acara perkenalan diri dan silaturahmi singkat tersebut, agenda TO selanjutnya adalah Pengambilan Data Penelitian (PDP). Aku dan Bagus yang bertugas menangani PDP harus malukan wawancara dengan sejumlah warga setempat mengenai tema yang kami ambil sebagai bahan penelitian. Aku mewawancarai sekitar 10 keluarga dibantu teman-teman sekelompokku yang lain. Saat itu hari hujan. Dan jalanan menjadi sangat licin. Dengan memakai jas hujan, kami tetap bersemangat mewawancarai satu per satu narasumber. Setelah mendapatkan semua bahan informasi, kami segera kembali ke rumah dan beristirahat. Saat itu hujan telah reda.

Hari berikutnya, Jumat 21 oktober 2011 saatnya kami melakukan kegiatan Peduli Kehidupan Desa (PKD) tadinya aku ingin sekali ikut. Tapi aku harus menyelesaikan display presentasi PDP di rumah. Maka yang pergi PKD adalah perwakilan kelompok kami; Tara, Annisa, Farah, Akang dan Kak Mirsa sebagai pendamping. Bersama Bapak, mereka diajarkan cara menanam jagung dan memetik sayur-sayuran. Sepulang mereka dari PKD, pukul 13.00-15.00 kami harus melakukan presentasi PDP. Kami manuju lapangan dan menunggu giiliran untuk uji presentasi. Presentasi kami berjalan cukup lancar, dengan sedikit masukkan dari Bu Syifa, guru matematika. Selebihnya, kami dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh juri. Selesai presentasi, kami kembali ke rumah masing – masing dan mendapatkan waktu senggang untuk bersantai. Pengumuman 5 finalis presentasi akan diumumkan malamnya. Dan yang terpilih akan melakukan presentasi sekali lagi di atas panggung  dengan juri yang duduk di bawah tenda di seberang lapangan. Presentasi ini berguna untuk menentukan kelompok mana yang akan keluar sebagai pemenang. Urutan juara ini akan mempengaruhi urutan penjelajahan kami yang akan dilaksanakan pada hari minggu, 23 Oktober 2011. Malamnya, kami membuat komik di kertas A0 yang kami bawa dari Jakarta yang menceritakan mengenai kegiatan PKD kelompok kami. Mulai dari berangkat sampai pulang lagi. saat tengah asyik membuat komik, tiba-tiba lampu mati. Alhasil kami tak bisa melihat apapun, jadi kami tak bisa menyelesaikan komik kami. Untung saja kelompok kami memiliki senter yang cukup terang sehingga bisa membantu memberi penerangan pada kami agar kami bisa melanjutkan pekerjaan membuat komik.



Perwakilan kelompok saat kegiatan Peduli Kehidupan Desa



Lari Pagi



Malam harinya, setelah pensi, perempuan dalam kelompok mendapat kesempatan jaga vendel. Menara tongkat sudah dibuat di halaman depan. Kertas mika warna merah, biru dan kuning sudah terpasang rapi di jendela. Kami juga sudah siap dengan senter. Pukul 24.00, aku melihat Kak Derry, Kak Widya dan Kak Dafi berjalan menuju rumah kami. Mereka bersembunyi di sudut tembok luar rumah, yang terhalang sehingga aku tak bisa melihat mereka. Lalu dengan cepat mereka memberikan kode-kode berupa warna yang berbeda beda dengan kertas mika yang disenteri dengan cepat. Meski hanya ada 3 warna, namun mereka mengulang-ulang warna tersebut dengan sangat cepat, sehingga kami harus sigap dan teliti dalam menghafalkannya. Setelah diberi kode, aku membalas dengan warna kode yang sama. Sebenarnya kuharap warnanya sama, karena aku sendiri tak begitu yakin aku menyenteri kertas mika itu dengan benar. Tapi Annisa membantuku. Setelah beberapa kali berbalas kode warna, kakak-kakak itupun pergi dari rumah kami. Aku agak sedikit lega. Paling tidak, aku dan perempuan lain dalam kelompokku sudah melakukan tugasku. Annisa berjaga bersamaku saat itu. Sementara Tara dan Farah terlelap karena tak kuat menahan kantuk. Selepas kakak-kakak Osis pergi, aku dan annisa mendesah lega bercampur senang. Namun, tiba-tiba kak Mirsa berkata dari dalam kamar dan memberitahu kami bahwa kode warna yang kami balas belum tentu benar. Dan baru akan diberi tahu esok paginya. Setelah selesai menjalani shift kami, aku dan Annisa segera membangunkan anak lelaki di kelompokku dan segera tidur. Helmi dan Akang akan berjaga menggantikan kami sampai puluk 02.00.

Hari berikutnya, Sabtu, 22 Oktober 2010 adalah ‘hari tanpa kegiatan berarti’ bagi kelompok kami. Kelompok kami tidak masuk final PDP. Sudah pasti kami tak mungkin menang. Hari ini hanya ada 1 kegiatan yang akan melibatkan kami. Lintas Budaya. Selebihnya tidak. Lintas Budaya kami bertemakan “Eskimo”. Ayolah, kelompok lain memiliki tema yang unik dan baju daerah yang meriah. Bisa dimodifikasi. Tapi tema “Eskimo” menurut kami agak kaku. Kami sulit memodifikasi baju adat yang dikenakan suku eskimo. Disaat kelompok lain menggunakan kalung, sanggul, renda-renda atau kebaya yang unik, kelompok kami hanya memakai celana bahan gela panjang dan jaket tebal gelap. Ditambah scarf gelap dan sarung tangan kelabu. Tapi Farah punya ide bagus. Dia menambahkan untaian kertas warna perak panjang sebagai ikat pinggang bagi Tara, perwakilan kelompok kami yang akan menjadi model bersama Akang. Annisa yang membawa papan penunjuk tema kelompok. Aku menonton acara Lintas Budaya di bawah tenda di pinggir lapangan. Acara berlangsung cukup meriah. Sayang, kami tetap tak mendapat juara. Sebelum acara selesai, hujan turun cukup deras. Aku dan temanku dari kelompok lain, Zahra, segera berlari pulang. Namun, karena rumah Zahra lebih jauh letaknya dari lapangan dibanding rumahku, maka untuk sementara ia menumpang di rumahku.




Suasana Lintas Budaya




Salah satu peserta model Lintas Budaya dengan tema Papua



Kelompok 14 "Eskimo" :D


Di rumah, Helmi dan Nadhiv telah selesai merapikan peralatan-peralatan display PDP kemarin dan melipat sleeping bag kami. Menurutku mereka berdua terhitung rapi untuk ukuran anak lelaki. Di rumah bapak menawarkan kami untuk belajar memasak. Kami berempatpun langsung menuju dapur dan memperhatikan bapak mengajarkan kami memotong kangkung. Setelah selesai memotong, kami menumis kangkung tersebut. Saat sedang memasak, tiba-tiba pintu rumah terbuka. Rupanya Kak Mirsa pulang dengan beberapa bagian jas Osisnya basah terkena air hujan. Namun ia segera pergi lagi untuk menjemput anggota kelompok kami yang tersisa di lapangan. Sayang sekali aku tak di lapangan saat hujan itu turun. Sebab, temanku menceritakan bahwa ternyata selama di sana mereka bernyanyi lagu TO dan saling berbalas lagu dengan kakak Osis dan MPK.




Salah satu finalis PDP sedang uji presentasi


Penonton final PDP


Malam harinya setelah sholat Isya’ , aku mempersiapkan tas dan peralatan lainnya yang akan kubawa saat penjelajahan besok. Tas ranselku tak berat. Hanya ada satu botol Aqua kecil di dalamnya. Lalu setelahnya kami mengobrol dengan bapak di ruang tengah.

Minggu 23 Oktober 2011, kelompokku bersiap-siap berangkat ke Mesjid seperti biasa untuk melaksanakan sholat Subuh. Selepas sholat, kami segera kembali ke rumah dan sarapan. Setelah itu kami mempersiapkan hal-hal kecil seperti sepatu, sentar dan lain sebagainya yang akan kami pakai saat penjelajahan. Aku membawa 2 sepatu dari Jakarta. Saat penjelajahan, aku memakai sepatu yang anti air. Selesai sarapan dan mengenakan sepatu, kami harus langsung menuju lapangan untuk menetapkan urutan penjelajahan kami. Kami harus belomba mencapai lapangan lebih awal dari yang lain agar kami tidak kesiangan untuk memulai penjelajahan. Urutan kelompok yang memulai penjelajahan, dimulai dari urutan pertama sampai urutan ke delapan, adalah kelompok yang memenangkan satu atau beberapa lomba atau kegiatan kelompok yang diselenggarakan (contoh : PDP, PKD, Lintas Busaya). Urutan pemberangkatan penjelajahan di bawahnya (urutan ke 9-30, harus diperebutkan oleh masin-masing kelompok) . Sayangnya, sesampainya di sana sudah banyak sekali kelompok yang sampai dan menempati urutan 9 sampai 15. Pada akhirnya, kelompokku, Yamko Rambe Yamko, mendapat urutan pemberangkatan penjelajahan ke 25. Jeda waktu pemberangkatan masing-masing kelompok adalah 5 menit. Jadi, kelompokku akan berangkat sekitar satu jam lebih setelah kelompok di urutan pemberangkatan pertama memulai penjelajahan.



Menunggu giliran penjelajahan



Setelah lama menunggu, akhirnya tiba juga kelompokku. Kami segera berdoa dan berangkat mejelajahi pegunungan di Parakan Ceuri. Pos Osis pertma yang kami temui adalah Pos Seksi Kesenian. Di sana muka kami harus memberi laporan kedatangan dengan aksen Bali serta menirukan suara semut jatuh dan anak ayam yang terbang lalu tercebur ke dalam air. Setelah itu, pipi kiri kami dicoret dengan nama kakak osis yang kami benci. Sebenarnya aku tak membenci satu pun osis. Tapi, saat kubilang begitu, kak Inez langsung menuliskan nama ‘Jordy’ di pipi kiriku dengan lipstik hitam. Di pipi kanan tertulis jabatan osis yang diinginkan. Tertulis di pipi kananku dengan lipstik hitam, Seksi Kesenian.

Kami cukup jauh dan lelah berjalan mendaki bukit dan berpegangan pada tali ketika turun melewati tanah licin. Tongkat yang harus kami bawa rupanya cukup berguna. Berkali-kali ia menyelamatkanku ketika aku nyaris terjatuh. Aku lupa beberapa pos dan tahapan yang aku lalui saat penjelajahan. Jadi aku akan langsung menjelaskan saat kelompokku tiba di pos Seksi Olah Raga.

Sesampainya di pos Sior, kami langsung disuruh buta tuli dan menyanyikan lagu-lagu TO serta Labschool. Cukup lama kamu melakukan itu sambil disirami oleh air. Setelah beberapa menit buta tuli, kami melanjutkan perjalanan lagi ke pos BN. Dari awal aku memang menunggu-nunggu saat ini. Antara takut, berdebar-debar dan merasa tertarik. Benar saja! Sesampainya di pos BN, kami disuruh melepas sepatu, kaus kaki, tas dan kacamata (bagi yang memakainya). Lalu, langsung saja kami masuk kedalam kolam lumpur di tengah sawah. Kami harus push up 1 seri di dalam kolam lumpur dan merayap di dalam sana. Selepas dari pos BN, kami melanjutkan perjalanan. Singkat cerita, akhirnya kami sampai di air terjun. Tujuan akhir kami dari penjelajahan ini. Di sana kami membersihkan diri dan menceburkan diri ke air terjun yang segar itu dan berfoto bersama. Setelah itu, kami menempuh jalan pulang melewati pegunungan dan bukit kebun teh serta pematang sawah yang indah. Di perjalanan pulang, kami melewati beberapa pos Osis lagi. Di perjalanan pulang, kelompok kami berjalan bersama dengan kelompok 15. Seru sekali berjalan di antara bukit dan kebun teh dengan angin sejuk dan pemandangan luar biasa. Aku sangat ingin mengulang penjelajahan sekali lagi.




Setelah beranjak dari pos BN


Perjalanan menuju curug



Tujuan kami sudah dekat!


Sampai di curug



Sampai di rumah, kami bergiliran mandi. Malamnya diadakan pensi lagi dan, karena ini adalah malam terakhir di Parakan Ceuri, kami mengadakan api unggun. Aku merasa senang bercampur sedih dan terharu saat api unggun berlangsung. Kedekatan di antara DASECAKRA benar-benar terasa saat itu. Kami bernyanyi dan meneriakkan yel-yel sambil menari bersama. Sungguh, saat itu tak pernah kulupakan sepanjang hidupku.
Pagi hari, Senin 24 Oktober 2011 aku pergi ke masjid untuk sholat subuh dan kultum. Setelah itu aku kembali ke rumah dan membereskan barang-barang untuk kembali ke Jakarta. Aku senang sekali selama di Parakan Ceuri. Kami merapikan rumah dan berpamitan kepada bapak dan ibu, lalu berfoto bersama. Aku sempat memberikan nomor telponku pada bapak. Jadi, sewatu-waktu bapak bisa menelponku lagi.




Pensi terakhir



Saat persiapan apel kepulangan kami


Parakan Ceuri mengajariku banyak hal. Mengajarkan hidup sederhana dan memiliki jiwa yang luhur. Bapak berpesan padaku untuk tidak meninggalkan solat, tetap merendah dan selalu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Parakan Ceuri juga menunjukan kepadaku kebesaran Tuhan atas keindahan alam yang ada di Parakan Ceuri. Pengalaman di Parakan Ceuri benar-benar pengalaman hidup yang berharga, yang mungkin tak bisa saya dapatkan bila saya bersekolah tempat lain. Memang awalnya saya merasa takut saat TO akan dimulai. Namun, seiring berjalannya waktu, aku bertanya-tanya dalam hati. Bisakah aku mengulang momen-momen ini lagi?



"Indah, TO tahun ini. Masa yang terindah di dalam hidupku. Takkan pernah kulupakan sepanjang hidupku...."





            -Niken Rahadiani Maheswari-XF/29-
Read more »
 

Copyright © 2010 Historical X For Labsky, All Rights Reserved. Design by DZignine